Apakah Arti Cinta, Rindu dan Cemburu dalam Islam ?
Cinta (Al-Hubb)
Cinta yaitu Al-Widaad yakni kecenderungan hati pada yang
dicintai, dan itu termasuk amalan hati, bukan amalan anggota
badan/dhahir. Pernikahan itu tidak akan bahagia dan berfaedah kecuali
jika ada cinta dan kasih sayang diantara suami-isteri. Dan kuncinya
kecintaan adalah pandangan. Oleh karena itu, Rasulullah Sawmenganjurkan
pada orang yang meminang untuk melihat pada yang dipinang agar sampai
pada kata sepakat dan cinta.
Sungguh telah diriwayatkan oleh Imam
Ahmad dan Nasa’i dari Mughirah bin Su’bah r.a berkata : “Aku telah
meminang seorang wanita”, lalu Rasulullah Sawbertanya kepadaku :
“Apakah
kamu telah melihatnya ?” Aku berkata : “Belum”, maka beliau bersabda :
“Maka lihatlah dia, karena sesungguhnya hal itu pada akhirnya akan lebih
menambah kecocokan dan kasih sayang antara kalian berdua”
Sesungguhnya kami tahu bahwa kebanyakan
dari orang-orang, lebih-lebih pemuda dan pemudi, mereka takut
membicarakan masalah “cinta”, bahkan umumnya mereka mengira pembahasan
cinta adalah perkara-perkara yang haram, karena itu mereka merasa
menghadapi cinta itu dengan keyakinan dosa dan mereka mengira diri
mereka bermaksiat, bahkan salah seorang diantara mereka memandang, bila
hatinya condong pada seseorang berarti dia telah berbuat dosa.
Kenyataannya, bahwa di sini banyak
sekali kerancuan-kerancuan dalam pemahaman mereka tentang “cinta” dan
apa-apa yang tumbuh dari cinta itu, dari hubungan antara laki-laki dan
perempuan. Dimana mereka beranggapan bahwa cinta itu suatu maksiat,
karena sesungguhnya dia memahami cinta itu dari apa-apa yang dia lihat
dari lelaki-lelaki rusak dan perempuan-perempuan rusak yang diantara
mereka menegakkan hubungan yang tidak disyariatkan. Mereka saling duduk,
bermalam, saling bercanda, saling menari, dan minum-minum, bahkan
sampai mereka berzina di bawah semboyan cinta. Mereka mengira bahwa
‘cinta’ tidak ada lain kecuali yang demikian itu. Padahal sebenarnya
tidak begitu, tetapi justru sebaliknya.
Sesungguhnya kecenderungan seorang
lelaki pada wanita dan kecenderungan wanita pada lelaki itu merupakan
syahwat dari syahwat-syahwat yang telah Allah hiaskan pada manusia dalam
masalah cinta. Artinya Allah menjadikan di dalam syahwat apa-apa yang
menyebabkan hati laki-laki itu cenderung pada wanita, sebagaimana firman
Allah Swt :
["Dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita,
anak-anak,..."] Ali-’Imran : 14
Allah lah yang menghiasi bagi manusia
untuk cinta pada syahwat ini, maka manusia mencintainya dengan cinta
yang besar, dan sungguh telah tersebut dalam hadits bahwa Nabi Saw
bersabda :
["Diberi rasa cinta padaku dari
dunia kalian : wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku
dalam sholat"] HR Ahmad, Nasa’i, Hakim dan Baihaqi.
Andaikan tidak ada rasa cinta lelaki
pada wanita atau sebaliknya, maka tidak ada pernikahan, tidak ada
keturunan dan tidak ada keluarga. Namun, Allah Swt tidaklah menjadikan
lelaki cinta pada wanita atau sebaliknya supaya menumbuhkan diantara
keduanya hubungan yang diharamkan, tetapi untuk menegakkan hukum-hukum
yang disyari’atkan dalam bersuami isteri, sebagaimana tercantum dalam
hadits Ibnu Majah, dari Abdullah bin Abbas r.a berkata : telah bersabda
Rasulullah Saw:
["Tidak terlihat dua orang yang
saling mencintai, seperti pernikahan"]
Dan agar orang-orang Islam menjauhi
jalan-jalan yang rusak atau keji, maka Allah telah menyuruh yang pertama
kali agar menundukan pandangan, karena ‘pandangan’ itu kuncinya hati,
dan Allah telah haramkan semua sebab-sebab yang mengantarkan pada
fitnah, dan kekejian, seperti berduaan dengan orang yang bukan
mahramnya, bersenggolan, bersalaman, berciuman antara lelaki dan wanita,
karena perkara ini dapat menyebabkan condongnya hati. Maka bila hati
telah condong, dia akan sulit sekali menahan jiwa setelah itu, kecuali
yang dirahmati Allah Swt.
Bahwa Allah tidak akan menyiksa manusia
dalam kecenderungan hatinya. Akan tetapi manusia akan disiksa dengan
sebab jika kecenderungan itu diikuti dengan amalan-amalan yang
diharamkan. Contohnya : apabila lelaki dan wanita saling pandang
memandang atau berduaan atau duduk cerita panjang lebar, lalu
cenderunglah hati keduanya dan satu sama lainnya saling mencinta, maka
kecondongan ini tidak akan menyebabkan keduanya disiksanya, karena hal
itu berkaitan dengan hati, sedang manusia tidak bisa untuk menguasai
hatinya. Akan tetapi, keduanya diazab karena apa yang dia lakukan. Dan
karena keduanya melakukan sebab-sebab yang menyampaikan pada ‘cinta’,
seperti perkara yang telah kami sebutkan. Dan keduanya akan dimintai
tajawab, dan akan disiksa juga dari setiap keharaman yang dia perbuat
setelah itu.
Adapun cinta yang murni yang dijaga
kehormatannya, maka tidak ada dosa padanya, bahkan telah disebutkan
olsebagian ulama seperti Imam Suyuthi, bahwa orang yang mencintai
seseorang lalu menjaga kehormatan dirinya dan dia menyembunyikan
cintanya maka dia diberi pahala, sebagaimana akan dijelaskan dalam
ucapan kami dalam bab ‘Rindu’. Dan dalam keadaan yang mutlak,
sesungguhnya yang paling selamat yaitu menjauhi semua sebab-sebab yang
menjerumuskan hati dalam persekutuan cinta, dan mengantarkan pada
bahaya-bahaya yang banyak, namun …..sangat sedikit mereka yang selamat.
Rindu (Al-’Isyq)
Rindu itu ialah cinta yang berlebihan, dan ada rindu yang
disertai dengan menjaga diri dan ada juga yang diikuti dengan
kerendahan. Maka rindu tersebut bukanlah hal yang tercela dan keji
secara mutlak. Tetapi bisa jadi orang yang rindu itu, rindunya disertai
dengan menjaga diri dan kesucian, dan kadang-kadang ada rindu itu
disertai kerendahan dan kehinaan.
Sebagaimana telah disebutkan, dalam
ucapan kami tentang cinta maka rindu juga seperti itu, termasuk amalan
hati, yang orang tidak mampu menguasainya. Tapi manusia akan dihisab
atas sebab-sebab yang diharamkan dan atas hasil-hasilnya yang haram.
Adapun rindu yang disertai dengan menjaga diri padanya dan
menyembunyikannya dari orang-orang, maka padanya pahala, bahkan
Ath-Thohawi menukil dalam kitab Haasyi’ah Marakil Falah dari Imam
Suyuthi yang mengatakan bahwa termasuk dari golongan syuhada di
akhirat ialah orang-orang yang mati dalam kerinduan dengan tetap menjaga
kehormatan diri dan disembunyikan dari orang-orang meskipun kerinduan
itu timbul dari perkara yang haram sebagaimana pembahasan dalam masalah
cinta.
Makna ucapan Suyuthi adalah orang-orang
yang memendam kerinduan baik laki-laki maupun perempuan, dengan tetap
menjaga kehormatan dan menyembunyikan kerinduannya sebab dia tidak mampu
untuk mendapatkan apa yang dirindukannya dan bersabar atasnya sampai
mati karena kerinduan tersebut maka dia mendapatkan pahala syahid di
akhirat. Hal ini tidak aneh jika fahami kesabaran orang ini dalam
kerinduan bukan dalam kefajiran yang mengikuti syahwat dan dia bukan
orang yang rendah yang melecehkan kehormatan manusia bahkan dia adalah
seorang yang sabar, menjaga diri meskipun dalam hatinya ada kekuatan dan
ada keterkaitan dengan yang dirindui, dia tahan kekerasan jiwanya, dia
ikat anggota badannya sebab ini di bawah kekuasaannya. Adapun hatinya
dia tidak bisa menguasai maka dia bersabar atasnya dengan sikap afaf
(menjaga diri) dan
menyembunyikan kerinduannya sehingga dengan itu dia mendapat pahala.
Cemburu (Al-Ghairah)
Cemburu ialah kebencian seseorang untuk disamai dengan orang lain
dalam hak-haknya, dan itu merupakan salah satu akibat dari
buah cinta. Maka tidak ada cemburu kecuali bagi orang yang mencintai.
Dan cemburu itu termasuk sifat yang baik dan bagian yang mulia, baik
pada laki-laki atau wanita.
Ketika seorang wanita cemburu maka dia
akan sangat marah ketika suaminya berniat kawin dan ini fitrah padanya.
Sebab perempuan tidak akan menerima madunya karena kecemburuannya pada
suami, dia senang bila diutamakan, sebab dia mencintai suaminya. Jika
dia tidak mencintai suaminya, dia tidak akan peduli. Kita tekankan lagi
disini bahwa seorang wanita akan menolak madunya, tetapi tidak boleh
menolak hukum syar’i tentang bolehnya poligami. Penolakan wanita
terhadap madunya karena gejolak kecemburuan, adapun penolakan dan
pengingkaran terhadap hukum syar’i tidak akan terjadi kecuali karena
kelalaian dan kesesatan. Adapun wanita yang shalihah, dia akan menerima
hukum-hukum syariat dengan tanpa ragu-ragu, dan dia yakin bahwa padanya
ada semua kebaikan dan hikmah. Dia tetap memiliki kecemburuan terhadap
suaminya serta ketidaksenangan terhadap madunya.
Kami katakan kepada wanita-wanita
muslimah khususnya, bahwa ada bidadari yang jelita matanya yang Allah
Swt jadikan mereka untuk orang mukmin di sorga. Maka wanita muslimat
tidak boleh mengingkari adanya ‘bidadari’ ini untuk orang mukmin atau
mengingkari hal-hal tersebut, karena dorongan cemburu. Maka kami katakan
padanya :
• Dia tidak tahu apakah dia akan
berada bersama suaminya di surga kelak atau tidak.
• Bahwa cemburu tidak ada di surga, seperti yang ada di dunia.
• Bahwasanya Allah Swt telah mengkhususkan juga bagi wanita dengan kenikmatan-kenikmatan yang mereka ridlai, meski kita tidak mengetahui secara rinci.
• Bahwa cemburu tidak ada di surga, seperti yang ada di dunia.
• Bahwasanya Allah Swt telah mengkhususkan juga bagi wanita dengan kenikmatan-kenikmatan yang mereka ridlai, meski kita tidak mengetahui secara rinci.
Surga merupakan tempat yang
kenikmatannya belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga
dan terbetik dalam hati manusia, seperti firman Allah Swt :
["Seorangpun tidak mengetahui apa
yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang
menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah
mereka kerjakan"] As-Sajdah : 17
Oleh karena itu, tak seorang pun
mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari bidadari-bidadari
penyejuk mata sebagai balasan pada apa-apa yang mereka lakukan. Dan di
sorga diperoleh kenikmatan-kenikmatan bagi mukmin dan mukminat dari
apa-apa yang mereka inginkan, dan juga didapatkan hidangan-hidangan, dan
akan menjadi saling ridho di antara keduanya sepenuhnya. Maka wajib
bagi keduanya (suami-isteri) di dunia ini untuk beramal sholeh agar
memperoleh kebahagiaan di sorga dengan penuh kenikmatan dan rahmat Allah
Swt yang sangat mulia lagi pemberi rahmat.
Adapun kecemburuan seorang laki-laki
pada keluarganya dan kehormatannya, maka hal tersebut ‘dituntut dan
wajib’ baginya karena termasuk kewajiban seorang laki-laki untuk cemburu
pada kehormatannya dan kemuliaannya. Dan dengan adanya kecemburuan ini,
akan menolak adanya kemungkaran di keluarganya. Adapun contoh
kecemburuan dia pada isteri dan anak-anaknya, yaitu dengan cara tidak
rela kalau mereka telanjang dan membuka tabir di depan laki-laki yang
bukan mahramnya, bercanda bersama mereka, hingga seolah-olah laki-laki
itu saudaranya atau anak-anaknya.
Anehnya bahwa kecemburuan seperti ini,
di jaman kita sekarang dianggap ekstrim-fanatik, dan lain-lain. Akan
tetapi akan hilang keheranan itu ketika kita sebutkan bahwa manusia di
jaman kita sekarang ini telah hidup dengan adat barat yang jelek. Dan
maklum bahwa masyarakat barat umumnya tidak mengenal makna aib,
kehormatan dan tidak kenal kemuliaan, karena serba boleh (permisivisme),
mengumbar hawa nafsu kebebasan saja. Maka orang-orang yang mengagumi
pada akhlaq-akhlaq barat ini tidak mau memperhatikan pada akhlaq Islam
yang dibangun atas dasar penjagaan kehormatan, kemuliaan dan keutamaan.
Sesungguhnya Rasulullah Saw telah
mensifati seorang laki-laki yang tidak cemburu pada keluarganya dengan
sifat-sifat yang jelek, yaitu ‘Dayyuuts’. Sungguh ada dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabraani dari Amar bin Yasir r.a, serta dari
Al-Hakim, Ahmad dan Baihaqi dari Abdullah bin Amr r.a, dari Nabi Saw
bahwa ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu peminum khomr,
pendurhaka orang tua dan dayyuts. Kemudian Nabi menjelaskan tentang
dayyuts, yaitu orang yang membiarkan keluarganya dalam kekejian atau
kerusakan, dan keharaman.
smoga Alloh mmbukakan jalan yg terbaik utk kta smua...amiiin
BalasHapusI always follow you from behind...Hhaa
AMIN..
HapusAMIN Ya Robbal 'Alamin..
Thankyou..thankyou...:)